aku mencoba untuk selalu menghindar...lari...dan pergi...
tetapi dia selalu mengikuti setiap langkahku
aku tak sanggup untuk mengatakan
aku tak ingin melihat luka di batinmu
tapi waktu itu tetap tiba
dan memaksaku untuk berkata-kata
...perih di saat harus kuucapkan....
duka dimatamu sangat menyayat hatiku...
takkan pernah kumaafkan diriku
karena aku telah melukaimu....
apapun akan kulakukan....
agar kembali ku lihat senyum di matamu...
mesin waktu tetap berjalan
sampai titik penghabisanku
takkan henti hati menangis
...aku sangat sayang kamu...
perjalanan panjangku ada baiknya menjadi pengalaman bagi yang mengenalku... duka yang kuterima menjadi suka kini, dan masih selalu ada duka yang mendewasakan dalam perjalanan hidup menuju satu kebahagiaan abadi... thanks to God, yang selalu memberiku pembelajaran hidup yang sangat indah, tanah datar, jurang dan batu terjal memberiku gambaran nyata dalam mengarungi kehidupan dan pencarian penghidupan...
12.10.11
23.8.11
....kekuatanku adalah kehendak-Mu...
aku jatuh....
untuk kesekian kali...
dan kehendak-Mu lah yang menguatkanku...
untuk kesekian kali...
dan kehendak-Mu lah yang menguatkanku...
9.4.11
...mati suri...
kala itu 30 Mei 1999 malam...
hari yang sangat menyenangkan bagiku
pesta sederhana dari teman dan sahabat, membawaku kembali muda...
basah dan dingin terhapus dengan tawa dan teriakan bahagia di sudut kampus kerakyatan
malam semakin larut dan canda itupun terbawa dalam mimpi...
...indah dan tak kan terlupa seumur hidupku
kala pagi menjelang 31 Mei 1999...
raga takkuasa bergerak...
dan jelang sore panas tubuh membuatku harus kembali ke IGD Panti Rapih
.....lever, kata dokter....
opname!!! ---lagiii!!!!
saat itu semua yang aku lihat berwarna kuning
dan kembali aku terkapar di Elizabeth 2
selang infus terpasang....
aku kembali sendiri tanpa keluarga, teman & sahabat
keceriaanku luruh dalam selimut putih
jelang pagi hari kedua Elizabeth 2....
datang segelas air kacang hijau...
"di minum mbak..." katanya
"ya, makasih..." jawabku lemas
disinilah awal perpecahan jiwa dan ragaku....
saat ragaku takberdaya menyentuh segelas kacang hijau untuk sekedar membasahi kerongkonganku...
jiwaku tersenyum dan mengambil gelas itu....
ragaku pun berteriak ...."jangan itu punyaku!!!"
jiwaku hanya melihat, tersenyum dan meletakkan kembali gelas itu....
lalu....
jiwaku turun dari tempat tidurku...
kembali dia tersenyum...
ragaku bertanya..."kamu mau kemana?"
kembali jiwaku hanya tersenyum dan tetap turun dari tempat tidur
ragaku melihat jiwaku yang nakal dan usil....
jiwaku berjalan ke tempat tidur tetangga yang sedang dikunjungi dokternya....
jiwaku yang jahil mulai mengintip kantong sang dokter...
jiwaku mulai memindahkan sandal sang tetangga...
ragaku hanya bisa berteriak...
"hai, jangan!!!!"
tapi kembali jiwaku hanya tersenyum....
saat sang dokter keluar dari Elizabeth 2 ...
jiwaku mendekatiku dan berkata....
"aku pergi dulu ya...."
ragaku berkata....
"ya"
saat jiwaku berjalan ragaku berteriak...
"sampaikan maafku untuk bapak, ibu, dimas, ari, dody, irah, faiz...."
jiwaku tetap berjalan menuju pintu Elizabeth,
tersenyum dan menganggukkan kepala...
ragaku teringat satu nama lagi....dan berteriak "didi juga...."
saat ragaku menyebut nama itu,
jiwaku sudah berada di tengah pintu Elizabeth 2....
separuh kaki di dalam ruangan dan separuh kaki diluar ruangan....
saat nama 'didi' terucap...ragaku tersadar dan kembali berteriak histeris....
"hai...kembalilah, jangan keluar!!!!! Cepat kembali!!!!"
jiwaku terhenyak....dia terdiam di tengah pintu....
menoleh kepada ragaku....
ragu terlihat di wajah jiwaku....
kemudian.....
berlarilah jiwaku kembali naik ke atas tempat tidur...
kembali kepada ragaku...
dan AKU tersadar....
dengan bermandikan peluh dan nafas tersengal-sengal....
kutatap sekelilingku...
gelas berisi kacang hijau masih utuh...
kuambil gelas itu dengan sisa tenagaku....
kuminum tanpa jeda kacang hijau yang sudah dingin....
kulihat selang infus yang masih menempel....
kulihat kantong infus yang mulai kosong....
semua masih berwarna kuning....
kupanggil suster...
aku hanya bilang....
"aku ingin pulang suster....didi masih membutuhkanku!"
suster berkata...
"sel darah putihmu harus diturunkan karena ini sudah diambang batas...,
kamu pucat sekali!"
akupun kembali menjawab....
"aku ingin pulang....!"
dan kalimat itu yang selalu aku ucapkan....
3 hari kemudian....
aku pulang dan langsung ke ibukota untuk merengkuh didiku...
terima kasih Tuhan....
Kau masih beri aku kesempatan untuk menyentuhnya...
aku tidak ingin meninggalkannya sendiri di dunia ini...
walo tidak setiap saat aku bisa merangkulnya...
tetapi aku masih bisa mendengarkan kicauannya...
masih bisa memberikan sedikit asa baginya
kukatakan pada jiwa & ragaku....
terima kasih....kalian masih mau berdamai
kutilang besarku....
aku akan selalu ada di hatimu....
aku akan selalu siap menerimamu...
jarak tak membuatku merasa jauh....
rinduku dan cintaku selalu untukmu...
kau yang membuatku kembali menapakkan kaki di dunia ini...
memandang dunia dari sisi yang berbeda....
menikmati dunia dengan hati yang lebih terbuka...
terima kasih kutilangku...
...love you so much Ananta Bunga Widi...
hari yang sangat menyenangkan bagiku
pesta sederhana dari teman dan sahabat, membawaku kembali muda...
basah dan dingin terhapus dengan tawa dan teriakan bahagia di sudut kampus kerakyatan
malam semakin larut dan canda itupun terbawa dalam mimpi...
...indah dan tak kan terlupa seumur hidupku
kala pagi menjelang 31 Mei 1999...
raga takkuasa bergerak...
dan jelang sore panas tubuh membuatku harus kembali ke IGD Panti Rapih
.....lever, kata dokter....
opname!!! ---lagiii!!!!
saat itu semua yang aku lihat berwarna kuning
dan kembali aku terkapar di Elizabeth 2
selang infus terpasang....
aku kembali sendiri tanpa keluarga, teman & sahabat
keceriaanku luruh dalam selimut putih
jelang pagi hari kedua Elizabeth 2....
datang segelas air kacang hijau...
"di minum mbak..." katanya
"ya, makasih..." jawabku lemas
disinilah awal perpecahan jiwa dan ragaku....
saat ragaku takberdaya menyentuh segelas kacang hijau untuk sekedar membasahi kerongkonganku...
jiwaku tersenyum dan mengambil gelas itu....
ragaku pun berteriak ...."jangan itu punyaku!!!"
jiwaku hanya melihat, tersenyum dan meletakkan kembali gelas itu....
lalu....
jiwaku turun dari tempat tidurku...
kembali dia tersenyum...
ragaku bertanya..."kamu mau kemana?"
kembali jiwaku hanya tersenyum dan tetap turun dari tempat tidur
ragaku melihat jiwaku yang nakal dan usil....
jiwaku berjalan ke tempat tidur tetangga yang sedang dikunjungi dokternya....
jiwaku yang jahil mulai mengintip kantong sang dokter...
jiwaku mulai memindahkan sandal sang tetangga...
ragaku hanya bisa berteriak...
"hai, jangan!!!!"
tapi kembali jiwaku hanya tersenyum....
saat sang dokter keluar dari Elizabeth 2 ...
jiwaku mendekatiku dan berkata....
"aku pergi dulu ya...."
ragaku berkata....
"ya"
saat jiwaku berjalan ragaku berteriak...
"sampaikan maafku untuk bapak, ibu, dimas, ari, dody, irah, faiz...."
jiwaku tetap berjalan menuju pintu Elizabeth,
tersenyum dan menganggukkan kepala...
ragaku teringat satu nama lagi....dan berteriak "didi juga...."
saat ragaku menyebut nama itu,
jiwaku sudah berada di tengah pintu Elizabeth 2....
separuh kaki di dalam ruangan dan separuh kaki diluar ruangan....
saat nama 'didi' terucap...ragaku tersadar dan kembali berteriak histeris....
"hai...kembalilah, jangan keluar!!!!! Cepat kembali!!!!"
jiwaku terhenyak....dia terdiam di tengah pintu....
menoleh kepada ragaku....
ragu terlihat di wajah jiwaku....
kemudian.....
berlarilah jiwaku kembali naik ke atas tempat tidur...
kembali kepada ragaku...
dan AKU tersadar....
dengan bermandikan peluh dan nafas tersengal-sengal....
kutatap sekelilingku...
gelas berisi kacang hijau masih utuh...
kuambil gelas itu dengan sisa tenagaku....
kuminum tanpa jeda kacang hijau yang sudah dingin....
kulihat selang infus yang masih menempel....
kulihat kantong infus yang mulai kosong....
semua masih berwarna kuning....
kupanggil suster...
aku hanya bilang....
"aku ingin pulang suster....didi masih membutuhkanku!"
suster berkata...
"sel darah putihmu harus diturunkan karena ini sudah diambang batas...,
kamu pucat sekali!"
akupun kembali menjawab....
"aku ingin pulang....!"
dan kalimat itu yang selalu aku ucapkan....
3 hari kemudian....
aku pulang dan langsung ke ibukota untuk merengkuh didiku...
terima kasih Tuhan....
Kau masih beri aku kesempatan untuk menyentuhnya...
aku tidak ingin meninggalkannya sendiri di dunia ini...
walo tidak setiap saat aku bisa merangkulnya...
tetapi aku masih bisa mendengarkan kicauannya...
masih bisa memberikan sedikit asa baginya
kukatakan pada jiwa & ragaku....
terima kasih....kalian masih mau berdamai
kutilang besarku....
aku akan selalu ada di hatimu....
aku akan selalu siap menerimamu...
jarak tak membuatku merasa jauh....
rinduku dan cintaku selalu untukmu...
kau yang membuatku kembali menapakkan kaki di dunia ini...
memandang dunia dari sisi yang berbeda....
menikmati dunia dengan hati yang lebih terbuka...
terima kasih kutilangku...
...love you so much Ananta Bunga Widi...
25.3.11
....ikhlas....
kata yang sangat mudah diucapkan
tetapi sangat sulit untuk dipraktekkan
kala mata melihat dan telinga mendengar
tak kuasa hati menahan untuk tidak berteriak
'kapan aku bisa menikmatinya?'
maafkan aku kutilang-kutilangku
karena aku belum bisa menunjukkan
kebesaran hati untuk menerima
maafkan aku kekasihku
karena aku pun belum sanggup berdiri tegak
tanpa selalu menoleh kebelakang seperti yang seringkali engkau katakan
maafkan aku saudara, teman dan sahabatku
keikhlasanku masih dalam batu ujian yang ternyata sulit aku daki
berilah aku waktu lagi.....
untuk selalu bersandar pada-Nya dan percaya bahwa....
Dialah yang paling tahu kapan waktu dan cawan ini akan tergantikan
kasih.....
berikan aku pelukan yang menguatkan dan menenangkan
kutilang-kutilangku....
berteriaklah dan terbanglah tinggi
agar aku terus mengikuti kepakanmu
agar aku semakin jauh dengan kenangan
agar aku selalu ingat tujuan akhirku
muliakanlah karya-Nya
tetapi sangat sulit untuk dipraktekkan
kala mata melihat dan telinga mendengar
tak kuasa hati menahan untuk tidak berteriak
'kapan aku bisa menikmatinya?'
maafkan aku kutilang-kutilangku
karena aku belum bisa menunjukkan
kebesaran hati untuk menerima
maafkan aku kekasihku
karena aku pun belum sanggup berdiri tegak
tanpa selalu menoleh kebelakang seperti yang seringkali engkau katakan
maafkan aku saudara, teman dan sahabatku
keikhlasanku masih dalam batu ujian yang ternyata sulit aku daki
berilah aku waktu lagi.....
untuk selalu bersandar pada-Nya dan percaya bahwa....
Dialah yang paling tahu kapan waktu dan cawan ini akan tergantikan
kasih.....
berikan aku pelukan yang menguatkan dan menenangkan
kutilang-kutilangku....
berteriaklah dan terbanglah tinggi
agar aku terus mengikuti kepakanmu
agar aku semakin jauh dengan kenangan
agar aku selalu ingat tujuan akhirku
muliakanlah karya-Nya
8.3.11
gelisah kutilang besarku
...kegelisahanmu adalah resahku...
...kekawatiranmu adalah ketakutanku...
kepakanmu semakin jauh kutilangku
lelahmu menjadi pembelajaran hidup
senyummu menjadi cahaya dalam hatiku
kutilang besarku....
aku kan selalu merindukanmu
cintaku seiring dengan irama kepakanmu
kepakan sayap kutilang kecilku
...ketika sayapmu mulai meregang...dan kepakanmu mulai tampak, kusadari aku akan mulai kehilangan teriakan laparmu di dalam sangkar usang ini berganti dengan tangisan kelelahan atau luka di sayap-sayapmu...
kutilang kecilku kepakkan sayapmu, berteriaklah sekeras-kerasnya....kembalilah ke sangkar usangmu kala kau lelah, kukan selalu ada untuk mengisi air dan bulir padimu....
Langganan:
Postingan (Atom)
